Today

Profil Esther Ouwehand, Legislator Belanda yang Diusir Karena Pakai Baju Corak Palestina

Redaktur

esther ouwehand

Amsterdam, Reformasi.co – Insiden menarik terjadi dalam sidang parlemen Belanda pada Kamis (18/9/2025) ketika anggota DPR Esther Ouwehand diminta meninggalkan ruang sidang untuk mengganti pakaian.

Politisi dari Partij voor de Dieren (Partai untuk Hewan) itu hadir dengan mengenakan blus bermotif bendera Palestina saat debat mengenai anggaran nasional.

Ketua DPR Belanda Martin Bosma menegaskan bahwa parlemen harus menjaga netralitas dan menghindari segala bentuk pernyataan politik melalui atribut, termasuk pakaian.

Ia menyatakan, “Parlemen harus tetap netral. Setiap simbol politik dapat merusak prinsip tersebut.”

Debat Panas di Ruang Sidang

Ouwehand sempat berargumen dengan Bosma, menekankan bahwa aturan tata tertib parlemen tidak melarang penggunaan pakaian dengan warna merah, hijau, putih, dan hitam. “Saya membaca peraturan dan tidak menemukan pasal yang melarang hal ini,” ujarnya di hadapan peserta sidang.

Meski demikian, Bosma tetap meminta Ouwehand berganti pakaian. Dengan tenang, Ouwehand meninggalkan ruang sidang, lalu kembali dengan busana berbeda: kemeja merah muda bermotif bintik hitam yang dipadukan dengan celana hijau.

Pilihan busana barunya ternyata bukan tanpa makna. Kombinasi warna tersebut menyerupai semangka, yang sejak lama dikenal sebagai simbol solidaritas dengan rakyat Palestina.

Solidaritas untuk Palestina

Dalam pidatonya, Ouwehand menegaskan bahwa tindakannya berangkat dari solidaritas terhadap warga Gaza. Ia menyebut pentingnya menempatkan kelompok rentan sebagai pusat perhatian dalam kebijakan. “Kita berdiri di sini untuk Palestina. Yang paling penting adalah memperjuangkan mereka yang tidak berdaya. Kita hanya bisa bergerak maju jika berani menempatkan yang paling rentan di pusat,” ucapnya.

Meski diminta berganti pakaian, Ouwehand tetap menegaskan bahwa sikap politiknya tidak berubah. Ia menilai simbol semangka yang dikenakannya menjadi pengingat atas sejarah panjang pelarangan bendera Palestina sejak Perang Enam Hari tahun 1967.

Profil Singkat Esther Ouwehand

Esther Ouwehand lahir di Katwijk pada 10 Juni 1976 dan saat ini tinggal di Den Haag. Ia telah menjabat sebagai anggota parlemen selama lebih dari 6.400 hari. Meski sempat menempuh pendidikan di Universitas Amsterdam jurusan Kebijakan, Komunikasi, dan Organisasi, studinya tidak ia selesaikan.

Sebelum terjun ke politik, Ouwehand pernah bekerja sebagai manajer pemasaran junior di Sanoma Uitgevers, sebuah penerbit majalah remaja. Kini, ia dikenal sebagai figur sentral Partij voor de Dieren, partai yang fokus pada isu lingkungan dan kesejahteraan hewan.

Simbolisme dan Viral di Media Sosial

Kejadian ini memicu perhatian publik luas dan ramai diperbincangkan di media sosial. Banyak warganet menilai tindakan Ouwehand sebagai bentuk protes kreatif terhadap pembatasan simbol politik di ruang parlemen. Dengan cara itu, ia tetap menyuarakan dukungannya pada Palestina tanpa melanggar aturan ketat lembaga legislatif.

Insiden ini bukan hanya mencerminkan ketegangan politik di dalam parlemen Belanda, tetapi juga memperlihatkan bagaimana simbol-simbol sederhana dapat menjadi representasi kuat dalam solidaritas internasional.

BERITA TERKAIT

Tinggalkan komentar